Wedang Dongo: Minuman Tradisional Solo yang Kaya Rasa
lensakuliner.com – Wedang dongo menjadi salah satu minuman tradisional yang mudah Anda temui ketika berkunjung ke Kota Solo. Banyak orang mengira minuman ini sama seperti wedang ronde, tetapi pedagang lokal menjelaskan bahwa keduanya berbeda.
Perbedaan Wedang Dongo dan Wedang Ronde
Pedagang menyebut ronde pada wedang ronde biasanya berukuran lebih besar dan jumlahnya lebih sedikit. Ronde sendiri berasal dari campuran tepung beras dan gula merah yang dibentuk bulat serta diberi isi kacang tanah tumbuk. Pada wedang dongo, pedagang cenderung menghadirkan ronde yang lebih kecil dan jumlahnya lebih banyak, meskipun setiap penjual memiliki standar masing-masing.
Asal Usul Wedang Dongo
Menurut cerita turun-temurun, keluarga kerajaan Solo dahulu menyajikan wedang dongo sebagai minuman khusus. Waktu berjalan, dan masyarakat mulai menikmati minuman hangat ini hingga akhirnya menjadi salah satu ikon kuliner Solo.

Baca Juga : Bebongko: Jajanan Pasar Khas Kalimantan yang Manis dan Menggugah Selera
Bahan Utama dan Cara Penyajian
Wedang dongo selalu mengandalkan dua bahan utama: air jahe dan ronde.
Pedagang membuat air jahe dengan merebus jahe yang sudah dikeprok bersama gula Jawa dan daun serai hingga mendidih. Setelah itu, mereka menambahkan ronde ke dalam mangkuk lalu menyiramnya dengan air jahe panas. Untuk memperkaya rasa, pedagang sering menambahkan kolang-kaling serta kacang tanah.
Berbeda dengan wedang ronde, wedang dongo tidak menggunakan irisan roti tawar, sehingga rasanya lebih sederhana dan fokus pada sensasi jahe serta ronde.
Cita Rasa dan Harga
Wedang dongo hadir dalam mangkuk kecil yang hangat dan aromatik. Pedagang Solo biasanya menjualnya dengan harga Rp2.500 hingga Rp5.000 per porsi. Harganya yang murah membuat minuman ini populer sebagai teman malam hari atau saat udara dingin.